Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

12/01/21

Helianthus

Untuk kesekian kali, daun demi daun kembali membisu

Sunyi hinggapi klorofil yang hancur dipecah waktu

Hening

Bahkan kicau burung menunjukan rasa angkuh

atas segala pertemuan musim yang kian menjauh

 

Untuk kesekian kali, petang tak lagi hinggap di tepian mahkota

Gelap kelopak surya menghiasi kebun yang dulunya dinamai surga

Tandus menyambangi diri

Mengoyak putik dengan tajam,

Merusak jaringan dada dari dalam

 

 

Mengering

Bunga itu kini tak lagi mentari

Mekarnya tak kunjung siang

Layu berserak daunnya

Nektar kian busuk tak terjamah telapak manusia

 

Malang Si Bunga malang

Hilang Sang Surya hilang

Berpangku akar rumpang

Menanti hingga setiap jiwa pulang

 

-Serdadu Pejuang Rasa, Batam

Fraktus

Seketika rindu rindu tersipu malu,

Pada punggung tangan,

Pada cemas yang menenangkan

dan jemari yang rutin mengibarkan penasaran

 

Seketika petang meredup

Mengintip di antara dua ufuk khatulistiwa

Dan dua manik yang kerap kau lempar ke angkasa

 

Terkadang sore begitu menggemaskan

Kali ini,

Riang tawanya memutuskan untuk singgah menemui matamu,

 

Sebagai tempat bersemayam dua waktu

 

Untuk Tuan Pagi yang kian menyamaimu

Dan Puan Malam yang kerap mencemburuimu

 

Kau lebih liar dari waktu

 

-Serdadu Pejuang Rasa, Bandung, 06-10-20

23/04/20

Distilasi Larik

Tak ada yang mampu menerjemahkan sepi, sekalipun itu puisi
Hanya sebatas untaian kalimat yang larut dalam secangkir kopi,
Terbilas ludah, terserap untuk mengenyangkan segerombolan sel inti.

Mungkin, ada yang berharap menemui seseorang disana,
Diantara bilah-bilah kursi kayu, 
dan dicelah-celah jarum jam yang kusebut dunia, 
atau kilas balik garis maya

Mencari dan menemukan,
Terik dan kesejukan,
sepi dan keramaian,
teguk sampai habis lalu luapkan.

Mereka tak pernah mengerti,
Risalah yang telah tertulis, mungkin hanya sebatas imajinasi atau titik terahir dari sebuah intuisi.

Pecahkan disana, lalu jumpailah jarak yang terpisah,
Pesanmu akan terkirim menuju berbagai rumah dengan satu tuan tanah.

Teguk sampai habis, lalu luapkan semua,
Hingga kau menjadi yang paling purba,
dari putaran jarum jam, dan ciptaan yang tak pernah dianggap ada.

Semakin nyata,
semakin pudar,

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 12 Januari 2020

Disudut Bibir Sepi

Pada tepian bibir itu, bekas kecup dan potret jemari membentuk sebuah formasi baku,

Terlukis siluet dari keluhan lampu-lampu kota, jejak kaki risau yang mengudara, dan sepi yang kian menjadi penerjemah bahasa,

Sesekali bibir itu berdenting, 
bertanya pada isak yang menyesak, 
perihal cara melarikan diri dari sebuah ruang gerak tanpa meninggalkan jejak,

" seperti dugaanku, sepi menjadi penerjemah setiap bahasa "

Sesekali bibir itu berdenting kembali,
kini dia melemparkan pertanyaan serupa, pada embun yang sejak pagi lekat-lekat pada telapak kaki.

"seperti dugaanku, sepi menjadi penerjemah setiap bahasa"

Bibir itu berdenting untuk kesekian kali,
kini dia memutuskan untuk diam,
perlahan mengerti,
bahwa kota ini, hanyalah arloji tua yang Tuhan ciptakan untuk mengelabui manusia,

" di luar dugaanku, bahasa tak mampu menerjemahkan kesepian "

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 7 Februari 2020

Kota Itu

Kota itu akan membawaku kembali pulang,
Menjadi aspal jalanan yang mencuri setiap langkahmu.
Tergilas beberapa keping canda sepanjang perjalanan
Terbilas rinai cerita disetiap persimpangan

Lampu-lampu itu akan menarikku kembali pulang,
Menjadi bola matamu ketika teduh yang petang,
Mengecup setiap kedip dengan deras yang tak sempat terucap

Aku akan mencatat setiap bising yang bertamu,
Termasuk debar saat masing-masing dari kita tersipu
Kutulis satu per satu
Jejak aspal jalanan,
Lampu kota yang hampir dipadamkan,
Dan bunga yang setiap musim bermekaran.

Sebagai penenang, ketika langkahku merindukan kotamu.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 25-02-20

Sejak

Sejak petang,
Ada terik yang terusik khatulistiwa
Jingga tumpah pada sudut pelipis, 
dan tepian kelopak, yang semarak ditumbuhi
sisa tangis

Sejak petang,
Kilau lelehan matamu memenuhi isi bumi,
Meluap,
Menaklukan angkuh samudera, dan riuh gerombolan burung bangkai yang bersarang dicelah rongga dada

Sejak petang,
Sungai-sungai berhenti mengalir,
Tandus hinggap ditelapak tangan,
Gersang rimbun tepat menyekat batang pernapasan

Sejak petang,
Manik-manik matamu berlarian,
Meracau ke setiap penjuru
Menari kecil ditepian pilu

Sejak petang,
Semuanya hilang
Bahkan titik terakhir pada sebuah tulisan usang

Berpulang.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 06-03-2020

Ukir

Semalam, 
kutemukan matamu dikaki angkasa,
Kau angkuh melampaui rasi Cassiopeia, sebagai wujud termanis yang Tuhan turunkan dipuncak tangga,
Jemarimu berpesta pora disana,
semarak kuku-kuku penuh warna, menghiasi sisa-sisa cerita diatas meja

Malam berikutnya,
Kulihat simpul bibirmu lebih indah dari busur Artemis
Lesatan tak tertepis
Bergerak kencang menuju genggam yang mencari makna pulang

Malam-malam selanjutnya,
Kudengar setiap sudut meja membicarakan dirimu,
Matamu,
Elokmu
Segalamu,
Kisahmu, dan segenggam rindu dari seorang pria yang kerap mencumbuimu sebagai arus waktu.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 06-03-2020

Stagnan Yang Disajikan

Sekokoh peradaban Etiopia hingga hangat angin Mediterania
Megah gerbang Notre Dame tergambar jelas pada tenang arus Kanal Venesia

Merangkum kurun yang sempat hilang
Menuju isi kepala yang lupa jalan pulang

Tepian bibir ranum berbuah
Impresi kuat yang menyapa tiap-tiap papila di permukaan lidah

Sejauh itu kau kumaknai
Serupa kicauan waktu yang kerap di nanti

Di sanalah kububuhkan sejumput klausa
Hingga tumbuh liar merambat mengisi alinea
Menjadi gramatikal paling sempurna, 
pada kurun yang berserakan di atas meja

Tajuk paling purba itu, kini kusebut kopi
Tempat paling bijaksana untuk kita menuang keluh sepanjang hari
Sepanjang jarak mengajari cara gemintang pulang
Sejauh rindu menarik kembali langkah para petualang

Tepat, ketika pahit dihabiskan
dan musim perlahan dihentikan
saat itulah, 
waktu kembali hadir
untuk menamaimu, sebagai manis yang Tuhan sembunyikan.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 14-03-2020

08/03/20

DATARAN VERTIKAL

Laut sudah tak memerlukan ombak,
Gemuruhnya tenggelam pada kakimu yang berundak-undak,
Anginnya menjadi malam, 
Meniup sepenggal bulan yang mencemburui matamu sejauh pandangan.

Hingga langit jatuh dipenghujung musim,
Menghantam detak dalam sebuah sirkulasi iklim, yang kini menjadi candu bagi masing-masing teduh untuk bermukim

Mungkin semalam bintang berjatuhan,
Gugur bersama segelas kopi yang kita teguk di bahu jalan.
Berselindung pada gemerlap lampu kendaraan dan tatapanmu yang tak bisa kuasingkan.

Mungkin kala itu mataku terlalu lancang mencuri lengkungmu
Kusandarkan dalam jejak lensa kamera, 
Sebagai tamparan teruntuk petang yang tak bisa diterka.

Ya,
Hampir setiap pekan, kau menjadi udara yang tersesat dalam siklus pernapasan

Hampir setiap saat kau mekar dibalik sekat-sekat yang merambat
Hampir setiap hari,
Hampir setiap waktu,
kau adalah tempat pulang bagi terima kasih yang kusebut rindu

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 25-02-20

04/01/20

Catatan Selepas Hujan Reda

Serendah langit-langit hingga seluas hamparan langit,
Kau tetap menjadi garis utama dalam sebuah kilas balik
Pendaran kisah paling klasik,
muara dari segala harap yang jatuh dilapangnya terik.

Kujumpai dirimu sebagai untai buku harian,
Persembahan termewah semesta selepas hujan,

Ya,
aroma itu yang kerap melekat diingatan,
Wangi kertas,
pita merah sebagai pembatas,
lelehan tinta,
gusar cerita,
luka,
suka,
dan sisa kering tetesan air mata.

Lagi,
Kau menemukanku dipenguhujung musim,
Kering menerpa angkasa, kau deras mengalir pada pipi-pipi yang merona.

Secepat itu musim berganti
Sesingkat ini cuaca terganti
Sehebat ini kecewa membuatmu kembali
Setangguh ini tulisan usang yang terhapus berulang kali

Hingga sebelum kau torehkan catatan kaki,
Disana telah tertulis,
Aku, masihlah kertas yang sama,
Kan kudekap semua kisah yang kau jatuhkan disana,
Kujilid sempurna, untuk kembali kita baca bersama.

Sepanjang apapun.


- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 22 Desember 2019

Semua Itu Aku

Sama keras serapuh cermin,
Ucap serupa, lintas suara saling menggema
Dia senang berjalan-jalan,
Kepalanya acap kali melawan

Terikatlah dia dengan sukarela
Tapi acapkali dia meronta
Kerap senyap, lalu riuh saat udara pengap.

Cermin tak pernah semuram itu
Musim tak pernah reda secepat itu
Kukira
Aku.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam , 3 Desember 2019

Di Bawah Permukaan

Dibawah gundukan tanah yang kusebut kaki malam,
Kulihat, kita masih asyik berbincang di tepian kolam,
Berdebat perihal debar yang mengkhawatirkan, dan sesiapa saja yang paling akrab dengan kekosongan

Semula kau bertanya,
" Debar siapa yang kerap membuatmu membangunkan purnama ? "
Jemari mengambil alih peran bibir,
Mendaratkan telunjuk pada permukaan gemas pipimu yang begitu menyihir

Kemudian, kau bersiap dengan pertanyaan kedua,
Terhenti sejenak,
bola matamu yang lucu berlarian mengitari kelopak, tercermin acak corak kata yang hendak kau susun dalam kepala,

Ingin sekali kucuri raut bingungmu kala itu,
kulipat dengan rapi dalam sebuah kotak,
untuk kemudian kuseduh bersama kopi dan secangkir sepi.
Dengan pahit yang menyeruak

Disanalah kau abadi
dalam sebuah aroma,
diantara tiap hirupan napas yang mengisi relung dada
Hadirmu kembali hidup pada balutan malam yang sempurna,

Sedekat kening dan angkasa,
Kita pernah mengawal malam menuju peraduannya.
Menghantarkan sejuk ke tempat dia seharusnya berada
Merangkum setiap musim, menjadi barisan kalimat untuk kita rapal bersama,

Dan sebelum bibirmu beranjak menjatuhkan tanya,
Kudahului suaramu bagai kilat yang kerap berada diawal suara
" Pertanyaan apapun yang kau ajukan,
debar akan selalu memberikan jawaban,
tersimpan disana,
di balik detak ,
yang tak kunjung reda "

-    Serdadu Pejuang Rasa, Batam 29 Desember 2019

Dinding

Dijatuhkannya sebuah tulisan,
Permukaan dinding yang penuh lumut itu,
Kini menjadi hamparan kanvas yang begitu luas,

Tercatat dari senyawa Sang Penulis,
Rangkai katanya perlahan mulai berfotosintesis,
Tersusun rapi, membentuk siluet dari seorang gadis.

Ya
Dia yang membuatnya hidup sekali, dua kali, hingga berkali-kali.
Terlihat sejak coretan pertama yang sangat damai, hingga jejak apostrof yang berangsur menjadi bangkai.


" Engkau " sahutnya,
Ujaran tanpa filosofi yang merangkum banyak arti,
Selalu memelas untuk dicari, kerap berharap untuk dimaknai

Selang beberapa dinding,
Ia torehkan sejumput huruf pada bidang putihnya. Menjadi tunas ditengah lapang kosong ruang tanpa kuasa,


Terekstraksi dari kecewa seorang manusia,
Barisan hurufnya serupa bidang maya
Tercarik kemarau, luntur terbilas hujan yang menyapa.

Ya,
Dia yang membuatnya mati sekali, dua kali, hingga berkali-kali,
Terpampang dari jauhnya rentang spasi
Dengan ruang kosong yang ada disetiap sisi.

" E n g k a u ? ", jelasnya
Sebutan sarat makna, yang meluapkan tanda tanya,
Menjadi hantaman maha dahsyat sejak dalam kepala, hingga bertahan dan tetap bersarang, pada jasad manusia yang terbunuh kata-kata.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 29 Desember 2019

16/12/19

Diorama Selaput Jala

Lihat,
Diantara iringan awan dan do'a yang berserakan,
Kau akan menemukan warna biru paling rindu disana,
Cerah yang jatuh di tengah penasaran, lalu berakhir pada ujung pertanyaan.
" Seriuh apa warna yang kau cipta pada sepasang kelopak yang lupa merasakan warna ? "

Langit memudarkan waktu beserta rekahannya,
Meringkus para pecandu senja paling agung ,dengan jingga yang terlukis mewah,
Disana kau menjadi rona merah,
Merekah indah,
memeluk erat, perlahan merambat, menyusuri tiap lekuk pembuluh darah

Tepat, setelah purnama -purnama diterbangkan.
Dengarlah do'a yang telah kupesan,
Melarut bersama pahit yang diseduh kesepian, kita membicarakan cantikmu hingga redup dinyalakan.
Kau terbit sebagai kejora,
Pada kepingan angkasa yang kutatap sekian lama,
Waktu demi waktu,
Masa ke masa
tetap menjelang,
Karena, pada kedalaman matamulah, semua indah lukis warna, akan kembali berpulang.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 12 Desember 2019

27/11/19

Titik Nol

Dari kejauhan, kulihat kelopak meranggaskan mahkotanya,
Satu demi satu, warna demi warna, 
Hingga tertunduklah segala aroma dalam balutan tanda tanya,

“ Kemanakah angin ini bermuara ? apakah berakhir pada sebuah awal ? 
atau bermula pada titik aba-aba ? “ 

Di atas sana, mendung sedang asyik menyembunyikan rintik,
Melipat rindu yang senantiasa tertitip pada gemuruh,
Mengemas khawatir penuh ratap yang kian riuh
Kemudian dia bertanya,

“ Bagaimana deras itu tercipta ? apakah dari luapan air yang tertahan ?
ataukah endapan dari debar yang tak diucapkan ? “

Jauh dari jangkauan awan, 
gemintang masih tetap menorehkan cemerlangmu di kaki angkasa,
Menyelamimu hingga menerobos selaput kornea
Merangkum tapak tilas sejak napas pertama,
hingga tempat bersemayamnya do’a-do’a

Tidak ada pertanyaan kali ini,
Jemari telah mengerti, 
bahwa riwayat yang telah dituliskan diam-diam
kini menjadi danau tempat segala tulisan tenggelam,
semakin dalam
semakin diam.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 27 November 2019.

21/11/19

Romansa di Bawah Pijakan

Potongan akar-akar rumpang,
Memancing kepalan hara tanpa huru
Menggeledah siku demi siku
Menyesap seluruh awal mula yang terbujur kaku

Potongan akar-akar rumpang
Kembali menyiangi masa yang tersirat diantara kering-kerontang
Berdialog perihal tumbuhnya tunas pertama
Hingga, sisa-sisa ocehan merpati yang tertinggal diangkasa.

Bercabang namun tak akan pernah menyesatkan
Rindang, dan begitu meneduhkan

Deras menguap diantara kalut
Terik menyeka kerumunan kabut
Potongan demi potongan mulai terpaut
Merayakan mekar pertama yang akan disambut

Bukan mawar yang diperbincangkan
Bukan melati yang mengharumkan
Mereka hanya pecahan akar-akar tanpa dedaunan.
Yang merekam kisah romansa dibawah pijakan.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 21 November 2019

Panggung Musim Kelima

Sejak runtuhnya petang,
Kidung-kidung perlahan dimainkan
Hingga tanah bijana mengalami pembusukan
Dan kelakar do'a mulai memenuhi seluruh ruangan

Sejak dilipatnya malam
Purnama berkeliling mengitari garis lintas
Memelas pada setiap Tuhan yang pantas
Mengemas keping-keping percaya yang terlepas

Sejak retaknya bilik-bilik pagi
Jarum-jarum berhenti kembali
Setiap sudut serupa duri
Mengecupi ubun-ubun, hingga menjalar ke ruas ruas kaki.

Kini do'a-do'a  serupa obituari
Sekat-sekat udara menjadi elegi
Pada pekik sepi, dan peluh yang mencuat tanpa henti

Sejak pudarnya warna pada senja kala
Kepakan sayap mulai bersuara
Menyuguhkan dingin selimut yang gulita
Menjadikannya tempat paling istimewa,
yang menahanmu untuk tetap ada.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 21 November 2019

19/11/19

Rentang

Barangkali,
Hanya sedekat jemari dan kaca-kaca yang dinanti hujan.
Jumpa kita tersekat satuan.
Kau adalah suhu dinding kamar, dan aku adalah pantulan cahaya ditengah deras yang berbinar.

Bersama, 
kita menjadi embun,
Tempat simbol hati berkerumun, 
hilang seketika, tersapu rindu yang menahun.

Barangkali,
Hanya sebatas akrab rentetan klausa dalam frasa
Debar yang ada, tak mampu diredam aksara
Bersama,
Kita mengisi rumpang bagian alinea,
Terpisah, kita menjadi yatim dan piatu puluhan kata

Barangkali,
Hanya sebatas ampas dan kopi,
Bersama, kita menjadi pahit sempurna yang bermuara pada lidah manusia,
Mengalir menuju pencernaan, lalu terserap sebagai ketenangan yang maha dahsyat.

Kita bisa lebih lancang dari rintik yang memeluk tanah,
Bisa menjadi yang paling keras kepala dibanding gemintang ditengah lampu kota.

Barangkali, angkasa jemu dengan untaian nama yang sama,
Maka, kita cukupkan sejenak dan mulailah menjadi paling berisik diantara sunyi,
Hingga kelak, ketika lagu-lagu itu mulai bersuara,
Segalamu akan kembali sebagai yang luar biasa.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 19 November 2019

Narasi Ilalang

Sepenggal sajak jalang, tengah dibacakan diantara kalut marut ilalang.
Tepat, ditepian halimun yang berkerumun,
Tatap pemuda itu berlarian, 
Mencari sudut-sudut persembunyian,

Dicelah bebatuan, 
dibalik karpet kemerahan,
ditengah telapak tangan, 
di jari-jari yang dikepalkan,
pada berkah-berkah yang dirapalkan
hingga, disela sorak tangis yang bersahutan.

“ Aku menemukanmu ! “
sahut detik pertama yang tertawa,
detik kedua, deras menyambangi pelupuk mata,
dan detik ketiga, hening bertamu tanpa mengenal kala.

Sepenggal sajak jalang, tengah dibacakan diantara kalut marut ilalang.
Pemuda itu kini mengunyah sisa langkah
Kelu lidah penuh liku luka kata-kata batinnya
Memuntahkan sumpah serapah, dia tertawa


Lekuk syaraf kian menebal
Parau tawa tersengal-sengal, sayup sayup perlahan redup
Tenggelam  diatas ranjang paling gulita
“ Indah sekali rasanya “ 
bisik aroma tanah dan ragam warna bunga kamboja
Sepenggal sajak jalang, tengah dibacakan diantara kalut marut ilalang.
“ Tahukah tuan, siapa yang paling merasa riang ?
Sepasang malaikat,
Mereka hanya tahu cara tertawa, ditengah tiap tangisan, diatas kain yang diikatkan, dan
disela-sela tanah pemakaman “
Aku tahu, 
Akulah sepenggal sajak jalang, yang tengah dibacakan dikerumunan ilalang

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 18 November 2019

Vista Genesis

Belum lama kitab-kitab kembali menuju sepi,
Kumpulan malaikat turun menyiangi sisa surgawi
Kisah legendaris metamorfosa sunyi
Hingga kelahiran yang ditepis mati.

Menyusuri bekas kecupan Sang Pujangga dari Avon
Dilekuk bibirmu yang kini merupa puisi
Mata ini menjadi saksi hidup sepenggal risalah penciptaan, untuk kemudian diterjemahkan kedalam satu sosok keindahan.

Dibibirku, kau terlukis sebagai secangkir anggur merah,
Ranum manis namamu rimbun dipermukaan lidah,
Lembut rerumputan bersarang diatas kasar epidermis yang terasah
Mengakar lebih dalam,
Mencuat kesetiap indera, menjelma elok cakrawala dipenghujung jumpa.

Ayat-ayat menyebutmu sebagai wanita
Malaikat memanggilmu  Si Gadis Belia
Sedangkan, aku menemuimu sebagai sisa Taman Firdaus yang tertinggal di dunia.

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam , 16 November 2019