02/11/19

ELONGASI UJUNG PENA

Pada catatan lembar kesebelas,
Hadirmu kembali mengunjungi dataran tandus sebelum deras,
Membawa lagi rintik, dibalik gulungan angin yang begitu memelas
Rentetan senyum dingin, kembali kurangkap semua tanpa membekas

Dalam kekosongan laci-laci meja,
Namamu kutulis tanpa jeda,
Merangkai risalah,  pada ingatan yang terpecah-belah,
Dengan diriku sebagai titik, dan kau, adalah tanda koma yang kerap berpindah

Menyiangi beragam alasan
Menyirami berbagai pertanyaan
Untuk kau jadikan pembaharuan,
Pada siklus hujan,
yang tertahan di setiap penghujung bulan,
Di ujung setiap kedipan.

Bolehkah catatan itu kubaca ulang ?
Pada baris obrolan ringan,
menatap senja diperjalanan,
Hal-hal memalukan,
Bincang-bincang kesedihan,
Solusi sepi kekecewaan, 
dan kenangan lain di beberapa bagian,
Bolehkah ?

Sebelum sosokmu menjadi puisi, 
atau debar mulai kehilangan arti.
Lihatlah tubuh siapa yang jatuh berulang kali,
Genggam kuat luka jemari,
Perjuangan yang dimakamkan,
Sabar yang tak sadarkan,
Hingga hadir yang dihilangkan.

Maaf, kau masih tetap kujadikan tanda koma di setiap kata,
Metafora yang kuanggap nyata,
Dan pusat kerinduan, dari luka yang keras kepala.

Seindah ini menuliskan sosok manusia, sebagai lara

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 2 November 2019

ELONGASI : Sudut antara dua benda langit terhadap satu titik acuan tertentu,

" Setelah kejadian itu, namamu kembali kutuliskan sebagai lara paling nikmat untuk ditulis,
Luka terindah untuk dilukis,
Sekaligus bahagia sementara yang paling bengis,
Terima kasih untuk pengalamannya, maaf, rinduku masih tetap keras kepala, seperti sediakala "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar