Pada kuncup-kuncup purnama selepas November,
Bermekaran sajak-sajak rindu yang ditepis hujan
Merekah merah tiap mahkotanya, tajam pula wewangian, menjadikannya sebuah berkah.
Membelit debar yang meradang,
Merindu kepingan darah yang lupa pulang,
Penolakan terhebat pada celah rumpang,
Antara rusuk dan lengkung yang merasuk.
Disini namamu masih kumakamkan, dipangkal tenggorokan,
Dilaring-laring yang bercelah,
Dibawah lidah,
Dan disekat peparu yang hampir pecah.
Sesekali kugali,
Untuk dipelajari,
Bahwa yang waktu adalah yang mati
Yang temu ialah yang jemu
Yang abadi adalah do'a-do'a manusia
pada Tuhan dengan nama berbeda.
Dan yang merusak, adalah harapan yang merisak.
Kupungut huruf per huruf hingga terlepas,
Untukku seduh bersama alir waktu di pipimu yang gemas
Kala itu,
Musim itu,
Hujan itu,
Tawa itu,
Kamu itu,
Rindu.
- Serdadu Pejuang Rasa, Batam,
10 November 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar