Untuk debar yang dibungkam sepi,
coretan acak tentang kita telah mengudara mengitari bumi
goresan paling membentang,
serupa cakrawala yang membenang
membelit setiap sisi, membentuk gurat-gurat diselaput mimpi.
Untuk denting yang bernafas diantara hampa,
saduran luka-liku lara, telah sampailah kesetiap pasang telinga
reka suara tawa, tangis, canda, bahagia, dan luka tertulis pada partiturnya
membuai ego yang berdamai, hingga ledakan badai dipelupuk mata.
Untuk do’a-do’a yang tersimpul di ujung usia
Kelopak-kelopak mulai merekah menggantikan senja
Gugur satu persatu menjadikannya sebongkah riasan mahkota,
Pendar terindah yang dirawat semesta.
Mendekatlah,
kusematkan beberapa kisah kecil ditiap bidangnya,
Perihal ranum asmara dibawah semesta,
Hangat rumah dipinggiran desa,
Sayur-mayur yang kau ingin tanam dihalamannya,
Lusinan jejak kecil yang memanggilmu mama,
Tawa riang disisi-sisi meja
Dan kisah lain yang telah kita susun sedemikian rupa.
Hingga manis gula-gula kian melarut
Rindu untukmu semakin kalut.
- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 12 November 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar