Kini malam tak seterang biasanya
Terlalu pekat untuk ditangkap selaput jala
Sedikit kehilangan riuh diantara udara
Dan, banyak menghadirkan cemas disela-selanya
Konfrontasi purnama dengan semesta menjadi cerita paling berisik disekujur sunyi
Serupa proses deflagrasi tanpa inti
Dengan debat dan terka yang hadir bertubi - tubi
Ya,
Sebagai bidak, kita hanya mampu meringkus gerombolan prasangka begitu banyak,
Entah penjajalan dari Sang Penulis Predesitnasi, ataukah lini masa dan semesta yang sedang berkonspirasi
Entahlah,
Sebagai bidak, kita hanya mampu meringkus gerombolan prasangka begitu banyak,
Pada akhirnya, kita kembali menjadi frasa
dalam naskah rumpang,
Serupa proses akulturasi masing-masing diksi untuk kemudian dimaknai,
Ataukah tetap bersimpuh dibalik barisan kalimat repetisi.
Tak ingatkah ?
Kita pernah dibaca sebagai kalimat majemuk, saling menyelamatkan Sang Waktu yang berada diujung tanduk,
Hingga apresiasi pun terdengar bagai kalimat pengutuk.
Tak inginkah ?
Mereka membaca kita kembali sebagai naskah yang utuh,
Pelengkap segala separuh
Menebus debar yang hampir runtuh,
Hangat yang menyeluruh
Paling jenaka pada lara yang luruh,
Hingga menjadi penyangga tiap jejak yang lumpuh.
Aku ingin itu,
Menjadi bacaan berulang sebelum semuanya hilang
Aku ingin itu,
Aku
Ingin
Itu.
- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 3 November 2019
*Konfrontasi : permusuhan, pertentangan
Deflagrasi : proses pembakaran dalam waktu singkat, disertai nyala terang dan suara gemertak
Predestinasi : Ketentuan Tuhan
Deskripsi :
" Semesta tercipta dari dua bidang berlawanan dalam sebuah kesatuan,
Siang dan malam, kiri dan kanan, langit dan bumi, hidup dan mati. Dapatkah kau bayangkan jika satu bidang kemudian hilang ?
Aku tak ingin hanya menjadi malam tanpa siang, langit tanpa pijakan bumi, dan hidup tanpa mengenal mati.
Maka, tetaplah menjadi bidang datar yang selaras,
Jika Siang dan malam dapat dikatakan waktu, Kiri dan kanan menjadi sebuah arah, lalu, aku dan kamu melebur dalam kata Kita "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar