Dan ketika kepak-kepak berjatuhan,
Binar-binar perlahan terbit dalam
kelopakmu,
Raut kemarau yang hampir badai
Panas terik diantara rinai
Dan secarik cemas yang enggan berdamai,
Khawatir terhebat dibalik diam,
Sepi terkuat dibandingkan batu pualam.
Diujung lesung yang kau sajikan,
Kutemukan sedikit deras disana,
Menyembunyikan diri dibalik pori-pori
Melurus paksakan ujung setiap lengkung
Pada satu manusia dengan rusuk yang
berkabung.
Selama ini,
aku masih menjadi sepasang telinga,
menyisir berbagai cerita, adalah takdirku
untuk tetap ada,
Penelisik terbaik saat gelisahmu mendera
Sejauh ini,
aku masih menjadi sepasang mata,
Menelaah bagian terdalam,
pada celah rumpang suaramu yang berlapis
bungkam
Pengamat paling hebat,
dengan debar, yang semakin terjerat.
Sedini ini,
Aku masih menyiapkan barisan jemari,
Menguatkan pondasi sekali lagi
Karena,
Ketika deras menyambangi matamu kembali,
Atau kau tersesat dalam sebuah labirin
sunyi,
Akan selalu ada genggamku, yang menemanimu
berulang kali.
Lagi,
Kembali,
Tanpa henti.
- Serdadu Pejuang Rasa, Batam 26 Oktober
2019
EPIDERMIS : Lapisan kulit terluar sebagai
pelindung, tidak peka, tanpa pembuluh darah
" Mungkin kau sangka rasaku hanya
sebatas epidermis, bagian terluar, mudah terganti,
Namun, kau harus tahu, akulah yang berada
digaris terdepan saat terik, dan mendekap paling erat saat dingin menjerat
"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar