28/10/19

EPISODIK HIPOKAMPUS

Hingga langit menyeduh purnama untuk kesekian kali, melarutkan langkah-langkah bahu jalan,
Iring- iringan bising persimpangan,
Kilat-kilat lampu sepanjang perhentian,
Menjadi merdu yang mengiringi sepi disekujur diri.

Kau, masih kurawat dalam benak yang terhantam jarak,

Kusimpan di tempat paling layak, dibalik sepasang lengan yang lebam membiru
Sebagai lapisan paling lembut, dari kasar bidang kenyataan yang diacuhkan waktu

Lepasmu adalah separuh,

Lengkapmu menjadikannya utuh,
Bius menjalar menyeluruh, 
piara bagi keping-keping rindu yang kerap bergemuruh

Kau, masih menjadi kepak kupu-kupu dalam taman yang bersemayam dibalik rongga dada,

Debar  bersemikan bunga
Nektar menghiasi cabang pembuluh vena,
Padang rumput di tepian aorta
Dan cakrawala yang melintang diantara diafragma

Kau, masih menjadi riuh di udara, sebagai alasan utama peparu tetap bekerja sama.


Menyerap berbagai kemungkinan

Menyibak segala kekhawatiran


Kau, masih seperti sediakala,

Pesona paling nyata,
Menjadikannya alasan utamaku untuk tetap ada,

Selama ini,

Sejauh ini,

- Serdadu Pejuang Rasa, Batam, 29 Oktober 2019


EPISODIK : koleksi ingatan yang unik dan terjadi pada masing-masing invididu dengan pemanggilan ingatan yang belum jelas

HIPOKAMPUS :  bagian otak besar yang memproses informasi dari luar untuk disimpan, termasuk emosi dan memori

" Karena, mengingat adalah bagian dari tantangan hidup,

Seperti cara menghirup udara, cara menikmati indah dunia, cara menyentuh lembut sutra dan cara-cara lainnya,
Dan kau, berhasil merangkum itu semua kedalam satu indra,
Disini, tepat dibalik rongga dada "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar