23/03/19

METAMORFIS DISIMILASI


Pernah
Ada satu masa, kurangkum jarak begitu banyak, hingga musnah tiap satuan, terbunuh lipatan rindu yang melawan,
Melepas rasa yang disisipkan khawatir pada celah-celah sapaan, yang kala itu
Tak pernah luput kau lontarkan untukku jadikan sarapan.

Pernah,
Ada satu masa, jemari begitu ringan dalam menyulam barisan aksara, dengan namamu yang selalu kusembunyikan diantara ruang kata. Terjahit sempurna pada rongga dada,
Bersama namamu, yang kuanggap sebagai udara, tempatku menggantungkan nyawa
Tertiup enggan hilang,
Sosokmu, tetap berlalu lalang, diatas ladang perasaan yang ditutupi ilalang.

Untukmu
Malam selalu kubentangkan,
Sejauh pelupuk mata dan telinga yang berpasangan,
Enggan menemui pagi yang menjemukan,

Aku
memilih mendiami malam sunyi dari kejauhan.
Hanya untuk saling melemparkan pesan,
Yang padamu, kusisipkan beberapa simbol senyuman,

Agar kau tahu,
Disini, ada sesosok manusia yang terbunuh rindu,
Terjebak diantara dilema sebuah rasa yang terus beradu.
Saling menahan candu,
Pada sapaan selamat tidur yang terpantau syahdu

Pernah,
Pada akhirnya, akan berhenti pada titik punah,
memudarlah bayanganmu dibawah pintu rumah yang perlahan musnah,
Menjelma debu,
Terbang mengitari ketiadaan yang tak menentu.
Rindu mengoyak rasa,
Mengunci cinta, pada bilik jantung yang berdetak tanpa irama,
terbelit pembuluh aorta dengan luka terbuka ,
yang sengaja, kau jejalkan rentetan duka, pada tiap keping darah yang mengalir keseluruh raga,
hingga perlahan mati, meregang tanya,

Kini,
Kau pergi menggenggam Sang Hilang dengan memperkenalkan diri atas nama luka,
Yang hingga saat ini sedang kurawat dengan sepenuh penuhnya rasa,
Agar suatu saat, dia mampu kubacakan sebuah cerita,
Tentang rasa, yang terbunuh pelan pelan,
Tersayat robekan paling tidak sopan, atas sebuah rasa penolakan,
yang bernaung pada ikhlas,
dalam sebuah kehilangan.

-SerdaduPejuangRasa, Bandung, Maret 2019-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar