Ada isak yang
terselimuti tawa dengan sempurna,
Ada kecewa yang
terbalut indah dalam diamnya,
Ada manja, yang
terselip diantara singkat pesan nya,
Ada khawatir, yang
tersulam sempurna dibalik celah celah barisan celotehnya.
Ranum diatas belantara
rasa,
Seindah merah nya,
serapuh mahkotanya
Kau, menjelma
setangkai mawar,
ditengah tandusnya
tanah yang hangus terbakar
Tempat harap terkapar
Bejana bagi renjana
yang hilang binar.
Lemah,
Rapuh,
Tak berdaya,
Mudah melebur dalam
tipudaya
Kata mereka,
yang hanya mampu
menerka,
Kata mereka
yang hanya melihatmu
bagai fatamorgana,
Terhapus jarak,
tergerus waktu yang
mengoyak.
Tertawa pada takdir
yang mempermainkan,
tangismu menyuburkan
ilalang tandus diseluruh batas pelataran hingga akarnya menancap kuat,
meretas kepedihan.
Untukmu
wanita,
Pupuskan segala
kerisauan
Hanguskan semua
kekecewaan,
Larutkan kehampaan
dengan tawamu yang elegan
Kaulah berlian,
Pendar keindahan, pada
proyeksi nyata sebuah penciptaan
Bagai pualam, kau
mampu merecah bait bait kelam yang menghujam, tak terbantahkan
Kau
Tangguh,
Kukuh,
Itulah dirimu,
Dibalik keanggunanmu,
Kau, adalah ciptaan
yang disempurnakan waktu,
Mekar sempurna
diantara rimbun cemara yang layu,
Merekah penuh kuasa,
pada pesona konstruksi semesta yang perlahan semu
Ranum diatas belantara
rasa,
Seindah merah nya,
serapuh mahkotanya
Kau, menjelma sekali
lagi menjadi setangkai mawar, ditengah tandusnya dataran rendah tanpa kata
indah,
Namun,
Kini,
Kaulah pesona
keindahan yang telah ditemukan.
Mekarlah,
Ranumlah,
Tersenyumlah,
Tetaplah menjadi mawar
yang tumbuh indah disetiap celah
Mahkotamu,
Tak layak tersipu
layu.
AKLIMATISASI :
penyesuaian diri dengan iklim, lingkungan baru
DISTROFIK : danau
dengan kandungan asam tinggi, dan gizi rendah
-SerdaduPejuangRasa,
Bandung-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar