Purnama kali ini tak seperti dahulu
Menghilang ditengah arus waktu meninggalkan kursinya tanpa
memberitahu
Kemudian tanpa permisi ia terbit dikedua bola matamu.
Menyinari setiap debar yang kusembunyikan
Kala bibirku, diam diam mengeja detak
Dengan penasaran tak berkesudahan
Menjadi kejora paling terang, sebagai tanda, bahwa hadirmu
patut untuk kurayakan.
Tetiba merupa sajak cinta yang selalu dilukiskan para
pujangga
Kau rekam seluruh keindahan semesta
Merangkum setiap peristiwa,
Meleburkannya kedalam satu kata yang kau tinggalkan dipagi
buta
Aku terjebak didalam dimensimu
Bersamaan jejak yang terjerat stagnasi waktu
Terikat kuat diantara bait,
Dengan rindu sebagai tali, dan debar sebagai tiang penyangga
setiap kepingan rasa
Aku nyaman dengan hal itu
Bagiku, kau adalah pusat tatanan galaksi diluar sana,
Dan aku adalah planet kecil, yang berusaha berada disatu
garis edar yang sama
Maka, izinkanlah aku mencatatmu kedalam sebuah prasasti
Yang akan kubacakan nanti
Hingga, disatu malam
Saat kudapati kau tersenyum ditengah purnama
Aku akan mengetahui sesuatu
Rembulan tak pernah menghilang ditelan arus waktu
Ia hanya memilih pindah ke sebuah singgasana baru
Yaitu terbit dikedua bola matamu.
- Serdadu Pejuang Rasa, Agustus 2019
- Serdadu Pejuang Rasa, Agustus 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar