Menjelma sunyi dipenghujung gelap,
Merangkul sesak dengan manismu yang mendekap
Bahkan do'a enggan terbang bagai merpati gugur sayap,
Menyekap tiap rasa, pada umpatan kalimat mesra tempat harap terperangkap.
Disitulah kemudian kau,
menjadi sosok yang menari-nari dipenghujung luka,
Menjelma bias cahaya biru yang terdistorsi sempurna pada frekuensi warna senja,
dengan akulah, titik buta dari sebuah entitas tanpa bekas yang tertangkap bayanganmu disekujur duka.
Terhunus lintasan suara yang tak terdekap telinga
Kau,
Merengkuh senja,
Merintih penuh rasa angkuh,
Kau berteriak,
menjerit,
seolah hanya kau yang disambangi luka.
Terlantun isak dalam sebuah cerita, kau samarkan dusta pada sebuah luminansi tajamnya realita.
Bahwa disini,
Kau tak pernah melihatku sebagai tempatmu melabuhkan rasa,
Kau memandangku hanya sebagai penghias kata,
Dalam sebuah mekanika cinta, dimana kepada langkahku, hanya sekat yang selalu kau sisipkan secara berkala.
Apa kau lupa ?
Tentang janji yang kita teriakan,
Tentang rencana yang setiap malam kita perbincangkan,
Tentang pengharapan yang selalu kita selipkan pada dialog sepertiga malam dengan Tuhan
Tentang semua hal yang telah dipastikan, akan kita jaga hingga waktu merenggut napas kita secara keseluruhan.
Apa kau lupa ?
Apa kau lupa ?
Dan kau pasti lupa,
Disini,
ada yang selalu menanti,
saat hadirmu lenyap tiba-tiba, tertelan tebalnya kabut semesta.
Hilang terbilas kepentingan yang berlalu lalang,
Pecah,
melebur,
memuai
Menguap,
menjadi udara yang kemudian membeku pada celcius rendah
dengan peluruhan molekul yang terkestraksi sempurna pada tiap-tiap kepingan hampa.
Menjadi satuan waktu yang enggan berlalu,
Aku,
Masih mencoba memaknai hati,
Pada setiap transisi sirkulasi hati yang silih berganti,
Menyekap setiap kemungkinan,
hingga pada akhirnya kau datang kembali.
Dengan sebuah cincin yang berkilau, diantara semerbak udara dari penolakan janji yang tertikam mati.
Disitulah,
Tergeletak sebuah jasad dari harapan yang kau remukan dengan sengaja,
Menjadi keping-keping
Puing-puing
Debu-debu yang kemudian tertiup angin penghinaan,
Hancur berserakan,
bergulir tanpa acuan
diseluruh lapangnya batas kenangan.
Selamat,
Atas kabarmu yang telah berhasil merobek gendang telinga, yang kemudian menusuk jantung dengan jeritan yang menggema ke sekujur raga.
Selamat,
Atas keanggunan luka yang telah kau suguhkan diatas nampan dengan namaku yang secara utuh kau goreskan.
Selamat,
Atas kepulangan hatimu ke sebuah pelukan yang baru,
Pestamu telah berhasil dirayakan,
hatiku, berhasil kau runtuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar