Aku masih terdiam disebuah meja, saat gemintang, hilang dicelah aksara yang tak pernah terbaca. Terlantun riuh para pemuja rindu , terdengar sesak aroma suara yang terhimpit waktu.
Kau terlalu liar untuk ditaklukan, menghampiri hati seraya mengelus, padahal kepadanya kau ungkapkan rasa yang tulus. Kau terlalu sibuk berlatih mengucap janji, padahal, kepadanya, kau telah melingkarkan sebuah logam suci, dimana celah jemari saling mengisi, merengkuh janji , dalam menapaki masa depan , yang kalian nanti.
Malam demi malam, purnama demi purnama melarut dalam fluida rasa penuh dusta.
Pekat wanginya berkecamuk, menumpuk harap pada hatimu yang tak pernah terketuk.
Celah tertutup sebuah katup, ku dobrak tanpa isyarat, harap yang bersemarak, terkapar dan sekarat
Terlalu rapuh untuk ditapaki, terlalu tinggi untuk didaki,
Kau memilih hinggap pada lain hati,
lain pelukan,
lain ucapan.
Dahulu, kau memperkenalkan diri penuh harapan
Aku memujamu penuh keyakinan, seolah kau, satu satunya bahagia yang telah semesta lahirkan.
Tak terbantahkan, senyummu mengoyak kesadaran. Dibatas kedalaman, ku terbuai indah nya perasaan.
Tak terelakan,
Tak beralasan.
Untukmu, aku hanyalah ingin menjadi sepasang telinga, menelusuk pada tiap ceritamu, adalah tujuanku untuk tetap ada. Menantimu menua, adalah alasan jantung ku masih berdetak penuh irama,
Diantara diorama rasa yang ada, dan tak berujung nyata.
Detak detik yang tercabik, masih menjadi penonton setia dari pementasan luka, dan kaulah Sang Sutradaranya.
Dilain meja ,Sebuah nama selalu kau eja, menawarkan berita suka dan bahagia yang harus ku baca. Bukan namaku yang tertera, tapi namanya yang selalu kau anggap ada.
Bersikukuh penuh angkuh, kau bercerita tentang indah pertemuan dengan nya, menancap jelas pada sepasang telinga, yang terbiasa menelan bisikan luka.
Topeng tawa dan bahagia, hanya sebatas metamorfosa, menyiasati rasa, bahwa hadirku, tersapu realita.
Tak mengapa,
Tak masalah,
Namun jika suatu saat kau mencariku, saat hatimu merasa bersalah, saat jiwamu merasa kalah, saat hidupmu dihujani rasa gundah,
menangislah...
Karena dipenghujung titik terendah, aku akan mengucap....
Pergilah !!!
*kon.jung.ti.va : selaput lendir yang menutupi kelopak mata, melipat kembali pada bola mata
eku.I.va.len : mempunyai nilai (ukuran, arti, atau efek) yang sama
eku.I.va.len : mempunyai nilai (ukuran, arti, atau efek) yang sama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar